Keju Tertua Ternyata Sangat Mematikan, Hampir me...

Share:

banner
http://www.kancilbalap.com/ref.php?ref=KPS757

PENCURIVIRAL.COM - Satu penemuan terbaru kembali terjadi di Mesir. Keju berusia 3.200 tahun ditemukan di sebuah makam Mesir Kuno. penemuan itu kemungkinan adalah "residu arkeologis dari keju padat paling kuno yang pernah dicatat," menurut penelitian yang diterbitkan pekan ini oleh jurnal Analytical Chemistry.

Para peneliti mengungkapkan, keju itu berasal dari abad ke-13 SM. Berupa zat padat berwarna keputihan, keju ini ditemukan dalam kendi. Meskipun terpapar kondisi iklim padang pasir yang keras selama 30 abad, senyawa ini mempertahankan cukup kandungan kimianya yang asli. Sehingga para ilmuwan dapat mempelajari asal mulanya.

Selain dapat melihat jenis susu hewan yang digunakan untuk memproduksi keju, para peneliti juga mendeteksi jejak bakteri berbahaya di dalamnya. Makam yang berisi kendi keju ini pada awalnya sudah ditemukan pada 1885. Namun, tak lama kemudian temuan itu terlupakan dan hilang terkubur pasir gurun Sahara. Pada 2010, situs itu ditemukan kembali dan diteliti ulang oleh arkeolog Prancis.

Sayangnya, penjarah makam telah mengambili isinya, kecuali satu set kendi keramik yang kebanyakan telah rusak. Di antara kendi keramik itu, satu yang berisi keju dan kain kanvas, ditinggalkan oleh para penjarah. Kendi berisi keju kuno ini dikubur di samping Ptahmes, pemimpin Kota Memphis pada Mesir Kuno.

Situs ini diperkirakan berasal dari Dinasti ke-19, yang menguasai Mesir dari 1292 SM hingga 1189 SM. Sebagai tokoh politik, Ptahmes adalah tokoh besar. Selain menjabat pemimpin kota, ia bekerja sebagai kepala staf militer dan mengawasi perbendaharaan kota. Setelah wafat, status Ptahmes diangkat mejadi Imam Tertinggi dari dewa Amun, dewa yang disembah pada Mesir Kuno.

Dan seperti yang ditunjukkan oleh penelitian terbaru, Ptahmes mungkin juga berkaitan dengan pembuatan keju masa itu. Paparan lingkungan gurun alkalin selama 33 abad yang kuat mengubah sifat kimia dari sampel keju (terutama kandungan lemaknya). Hal ini membuat analisis zat putih tersebut menjadi lebih sulit.

Untuk mempelajari temuan yang diduga keju ini, tim yang dipimpin oleh Enrico Greco dari University of Catania di Italia harus menyusun cara terbaru untuk menganalisis protein dan mengidentifikasi penanda peptida (jejak asam amino yang menandakan keberadaan zat-zat tertentu).

Setelah melarutkan sedikit bagian dari keju ini, tim Greco mengisolasi dan memurnikan sampel protein. Protein dianalisis secara hati-hati menggunakan spektrometri massa dan kromatografi cair. Terlepas dari peluruhan selama bertahun-tahun, para peneliti masih mampu mengidentifikasi jejak-jejak peptida spesifik, mengidentifikasi substansi ini sebagai jenis keju keras.

Analisis menunjukkan, keju ini diproduksi dengan mencampurkan susu dari kambing, domba, dan kerbau Afrika. Ini menjadi hal aneh karena kerbau Afrika adalah spesies yang biasanya tidak terkait dengan binatang ternak dan perahan pada masa Afrika modern. Sementara, kain kanvas dianalisis dan membuktikan itu baik untuk menyimpan benda padat, bukan cair
Kain ini kemungkinan digunakan untuk menutupi keju, atau bagian atas kendi. “Cara paling umum untuk terinfeksi Brucella melitensis adalah dengan memakan atau minum produk susu yang tidak dipasteurisasi atau mentah."

"Ketika domba, kambing, sapi, atau unta terinfeksi, susu mereka terkontaminasi dengan bakteri,” tulis Pusat Pengendalian Penyakit AS di situs webnya. "Jika susu dari hewan yang terinfeksi tidak dipasteurisasi, infeksi akan ditularkan kepada orang yang mengkonsumsi susu dan/atau produk kejunya." Brucellosis biasanya tidak fatal, tetapi itu adalah tipe penyakit yang jahat.

Gejalanya mencakup demam, keringat pada malam hari, malaise, dan nyeri otot.
Terkadang disertai masalah kesehatan jangka panjang seperti radang sendi, pembengkakan testis, kelelahan kronis, dan endokarditis (pembengkakan jantung), dan lainnya. Bukti arkeologi sebelumnya telah menunjukkan, orang Mesir kuno tidak asing dengan Brucellosis.

Sehingga, penemuan baru ini memberikan bukti lebih lanjut tentang infeksi Brucellosis serta sarana penularannya melalui keju yang terinfeksi. Adapun rasa kejunya memiliki konsistensi yang sama dengan keju jenis chevre, Paul Kindstedt, profesor dari University of Vermont mengatakan kepada New York Times. Namun, rasanya "benar-benar, asam.“ Paul menambahkan, kelembapan keju ini pun cukup tinggi sehingga kemungkinan bisa dioleskan mirip seperti keju krim atau selai.

ituDewa Agen Bandar Judi Terpercaya Indonesia 7 Games Dalam 1 Webiste


AGEN BANDAR JUDI TERPERCAYA DI INDONESIA 
7 GAMES Dalam 1 WEBSITE 

MINIMAL DEPOSIT 25.000  & WITHDRAW HANYA 50.000 RUPIAH
PROSES DEPOSIT & WITHDRAW TERCEPAT
PELAYANAN 24JAM SETIAP HARINYA.

Bonus CASHBACK hingga 0,2 ~ 0,3% setiap minggu
+Bonus Deposit 5.000 berlaku 1 hari sekali
+ Bonus Referral 20% seumur hidup
+ Promo Menarik Lainnya

Tunggu apalagi??

CONTACT US
Line : ituDewa
Pin BB: 7B24AAD8
Tlp : +85585623558

2 comments