ARTIKEL TERBARU

Indonesia Pernah Hadapi Flu Spanyol, Adakah PSBB pada Masa Itu?

Report on the Influenza Epidemic in Netherlands-Indie 1918, dalam Mededeelingen van Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (MBGD) 1920 (Dok. koleksi Syefri Luwis)

PencuriViral.com - Pandemi virus Corona COVID-19 bukanlah pandemi pertama yang pernah terjadi di Indonesia. Ketika pandemi flu spanyol mendunia tahun 1918, Indonesia juga turut merasakan dampaknya.

Flu spanyol sendiri diteliti berasal dari Amerika dan China. Namun, hingga sekarang belum ada pengamatan yang pasti mengenai asal muasal dari penyakit ini. Flu spanyol memiliki berbagai kesamaan dengan COVID-19, seperti gejala yang mirip influenza, penularan yang cepat, dan berdampak pada kematian.

Kesamaan lainnya juga terdapat pada penanganannya yang serupa dengan COVID-19, salah satunya adalah penerapan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) atau lockdown. Pada masa pandemi flu spanyol, kebijakan tersebut juga diambil meski akhirnya terjadi bentrok antara persepsi kedokteran, kehakiman, dan pebisnis.

Syefri Luwis, peneliti sejarah wabah dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa saat itu dunia kedokteran melarang masyarakat untuk berkumpul supaya dapat menanggulangi penyakit flu spanyol. Akan tetapi hal tersebut tidak disetujui oleh direktur kehakiman.

"Dinas kesehatan saat itu tidak mengizinkan masyarakat untuk kumpul-kumpul. Namun, direktur kehakiman justru khawatir akan terjadi keresahan masyarakat, jika mereka tidak diizinkan kumpul-kumpul," ujar Syefri melalui BNPB Channel, Kamis (30/07/2020).

Ravando Lie, seorang kandidat doktor sejarah dari University of Melbourne menjelaskan bahwa pada masa itu juga ada protokol kesehatan, berupa tata cara yang mengatur kegiatan seseorang. Salah satunya adalah aturan hukuman kurungan bagi mereka yang melanggar tata cara, seperti menaikan dan menurunkan penumpang, angkut barang di pelabuhan, dan lainnya.

Namun hal ini justru menimbulkan ketegangan pada pihak pengusaha karena dapat mempengaruhi bisnis. Oleh sebab itu, protokol yang sudah dirumuskan tersebut tidak dijalankan.

"Dokter juga menyarankan lockdown, tapi ditolak karena takut menimbulkan kekacauan. Masyarakat yang kebingungan, akhirnya bergantung pada obat-obatan tradisional," jelas Ravando.

Wah, ternyata sama saja ya. Pro dan kontra selalu muncul sepanjang masa.

Tidak ada komentar